MENJAGA LESAN

Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wa ta’ala shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah shalallahu ‘alai wasallam, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya.. Amma Ba’du:
Di antara nikmat agung yang diberikan oleh Allah kepada kita adalah nikmat lisan. Allah subhanahu wa ta’alaberfirman
Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir.(QS. Al-Balad: 8-9)
Dan jika lisan ini tidak dimanfaatkan dalam ketaatan kepada Allah maka dia akan menjadi bumerang bagi pemilikinya. Allah berfirman: ada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”. (QS. Al-Nur: 24)
Banyak nash syar’i yang menganjurkan untuk menjaga lisan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaf: 18)
Allah berfirman:
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohonga terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS. Al-Nahl: 116)
Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi di dalam kitab sunannya dari hadits riwayat Mu’adz radhiyallahu ‘anhu bahwa dia bertanya kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alai wasallam tentang amalan yang mendekatkannya kepada surga dan menjauhkannya dari neraka, maka Nabi Muhammad shalallahu ‘alai wasallam memberitahukannya tentang pokok perkara, tiangnya dan puncak suatu perkara kemudian beliau bersabda, “Apakah engkau mau aku beritahukan tentang apakah yang mengendalikan semua perkara itu?. Aku berkata: Ya, wahai Nabi Allah. Maka Mu’adz berkata: Beliaupun memegang lisannya dan bersabda: “Tahanlah lisanmu ini”. Aku bertanya: Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa karena apa yang kita ucapkan?. Maka beliau bersabda: Kamu kehilangan ibumu wahai Mu’adz, tidakkah banyak manusia yang tersungkur di dalam api neraka di atas wajah-wajah mereka atau di atas hidung mereka karena mereka telah menjadi tawanan bagi lisan-lisan mereka?.[1]
Diriwayatkan oleh Imam Al-bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alai wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba berkata dengan suatu perkataan yang tidak dicamkannya secara mendetil, akhirnya dia terjatuh dengan ucapannya itu ke dalam api neraka yang kedalamannya melebihi antara masyrik dan magrib”.[2]
Maksud tidak dicamkan adalah tidak mengetahui atau menghiraukan apakah perkataannya itu termasuk ketaatan kepada Allah atau kemaksiatan?.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari hadits riwayat Sahl bin Sa’d bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alai wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menjamin bagiku apa yang ada di antara kedua bibirnya dan apa yang ada di antara kedua kakinya maka aku akan menjamin baginya masuk surga”.[3]
Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi di dalam kitab sunannya dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah apakah keselamatan tersebut?. Maka Nabi Muhammad shalallahu ‘alai wasallam bersabda, “Jagalah lisanmu, hendaklah engkau merasa lega dengan rumahmu dan tangisilah kesalahanmu”.[4]
beritahukanlah kepadaku suatu perkara yang aku jadikan sebagai pegangan bagiku. Rasulullah shalallahu ‘alai wasallam bersabda, “Katakanlah: Allah adalah Tuhanku dan istiqomahlah. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, perkara apakah yang paling engkau khawatirkan terhadap diriku?. Maka beliau memegang lisannya kemudian bersabda: Ini!.[5]
Abdullah bin Mas’ud berkata, “Aku telah memperingatkan kalian terhadap perkataan yang berlebihan, cukuplah bagi kalian ungkapan yang bisa memenuhi kebutuhan”.[6]
Muhammad bin Wasi’ berkata kepada Malik bin Dinar: Wahai Abi Yahya, menjaga lisan lebih sulit bagi manusia daripada menjaga harta dinar dan dirham”.[7]
Al-Auza’i berkata, “Umar bin Abdul Aziz rahimahullah telah menulis bagi kami sebuah pesan yang tidak akan pernah dijaga oleh orang lain selain diriku dan Mahul: Amma Ba’du... sesungguhnya orang yang memperbanyak mengingat mati, maka dia akan rela dengan harta duniawi yang sedikit, dan barangsiapa yang menyadari bahwa perkataannya sebagai bagian dari amalnya maka dia akan sedikit bicara pada perkara yang tidak bermanfaat”.[8]
Abdullah bin Mas’ud berkata: Demi Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain diri -Nya, tidak ada sesuatu yang paling membutuhkan pengekangan dalam masa yang lama kecuali lisan”.[9]
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa seyogyanya bagi orang yang mukallaf untuk menjaga lisannya dari segala bentuk ungkapan kecuali bicara yang mendatangkan kebaikan, lalu pada saat suatu pembicaraan memiliki perbandingan yang sama antara dilakukan atau ditinggalkan maka yang sunnah adalah meninggalkannya, sebab bisa jadi perkataan yang mubah akan mengarahkan seseorang pada perkataan yang haram atau makruh, bahkan hal ini banyak terjadi atau telah bisa terjadi di dalam kebiasaan manusia, dan keselamatan itu tidak ada bandingannya”.[10]
Dan gerakan anggota badan yang paling buruk adalah bergeraknya lisan, dia bisa mendatangkan bahaya bagi seorang hamba.
Ibnul Qoyyim berkata, “Termasuk perkara yang mengagumkan jika seseorang menjaga dirinya dari makanan yang diharamkan, atau berbuat zalim, berzina, mencuri, meminum khamar dan melihat kepada perkara yang diharamkan dan lainnya, namun sulit bagi seseorang menjaga dan menahan garakan lisannya, bahkan orang yang dikenal sebagai orang yang istiqomah dalam agama, zuhud dan ahli ibadah terkadang dia berbicara dengan kata-kata yang mendatangkan kemurkaan Allah , hal itu terjadi tanpa disadarinya, sehingga dengan satu kata itu dia terjebak ke dalam api neraka pada kedalaman yang lebih jauh dari masyrik dan magrib, terkadang engkau bisa menyaksikan orang yang menjaga dirinya dari perbuatan keji dan zalim, namun lisannya mencincang dan menyembelih kehormatan orang yang hidup dan mati, tanpa dirinya menyadari apa yang telah diucapkannya itu”.[11]
Dan jika engkau ingin mengetahui hal itu maka renungkanlah sebuah riwayat dari Muslim di dalam kitab shahihnya dari Jundub bin Abdullah bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alai wasallam menceritakan bahwa seorang lelaki berkata: Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni si fulan, dan sesungguhnya Allah Ta’ala berkata: Siapakah yang berani bersumpah dengan diri -Ku bahwa Aku tidak mengampuni si fulan?, sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan menghapuskan semua pahala amal ibadahmu”.[12] Atau sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad
shalallahu ‘alai wasallam .
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dia telah mengucapkan satu kata yang membinasakan dunia dan akheratnya, seorang lelaki menceritakan kejelekan seorang lelaki lainnya, maka temannya berkata: Apakah engkau telah memerangi bangsa Romawi?. Lelaki tersebut berkata: Aku tidak pernah melakukannya, lalu teman itu berkata: Orang Nashrani selamat dari ceritamu namun saudaramu sendiri tidak selamat dari lisanmu”.
Sebagian ulama berkata: sembilan persepuluh dosa-dosa datang akibat lisan”.
Seorang penyair berkata:
Wahai sekalian manusia!, hendaklah jaga lisanmu ini
Jangan sampai mengigitmu, sungguh dia ular berbisa
Banyak orang mati di dalam kubur akbiat lisannya
Padahal pribadinya ditakuti oleh para pemberani
Sebagian ahlul ilmi berkata: Lisan memiliki dua bencana yang besar, jika seseorang selamat dari satu bencana maka dia tidak akan selamat dari bencana yang lainnya, yaitu bencana diam terhadap kebenaran atau bencana berbicara dalam kebatilan, bahkan terkadang, dalam suatu saat salah satu dari keduanya lebih berbahaya dari yang lain, maka orang yang diam terhadap kebenaran adalah setan yang bisu, bermaksiat kepada Allah, riya’, cari muka jika dia tidak khawatir terhadap dirinya. Seperti orang yang melihat kemungkaran di hadapan matanya padahal dia mampu mengubahnya namun hal itu tidak dilakukannya. Diriwayatkan oleh Abi Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alai wasallam bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya dan jika dia tidak mampu maka hendaklah dia mengubahnya dengan lisannya, lalu jika dia tidak mampu maka hendaklah dia mengubahnya dengan hatinya, dan itu adalah cermin selemah-lemah keimanan”.[13]
Bencana yang kedua: Berbicara dalam perkara yang bathil, itulah setan yang bisa berbicara yang bermaksiat kepada Allah, dan banyak orang yang menyimpang dalam ucapan dan diamnya, mereka berada dalam dua sisi ini, dan orang yang mengambil jalan pertengahan itulah orang yang berada di dalam jalan yang lurus, mereka menahan lisan mereka terhadap kebatilan dan membebaskannya pada ucapan yang mendatangkan manfaat bagi mereka di akherat, kita tidak melihat salah seorang dari mereka berbicara dengan suatu kata yang sia-sia dan tidak mendatangkan manfaat, apalagi kalau ucapan tersebut akan mendatangkan kemudharatan di akherat kelak, yaitu pada hari kiamat nanti, pada saat dia memiliki simpanan kebaikan yang besar sebesar gunung-gunung, namun akhirnya dia mendapatkan lisannya menghancurkan semua pahalanya tersebut, dan ada sesorang datang dengan keburukan sebesar gunung-gunung yang besar namun dia mendapatkan lisannya menghancurkan keburukan tersebut, dan keburukan tersebut dihancurkan oleh lisannya dengan memperbanyak berzikir kepada Allah atau apapun yang berhubungan dengannya[14]
Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan tiada daya dan upaya kecuali dengan kehendak Allah.
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alai wasallam dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.


[1] HR. Turmudzi: no: 2616 dan Al-Turmudzi berkata: Hadits ini adalah hadits yang shahih.
[2] HR. Muslim: no: 2988 dan Al-Bukhari: 6477
[3] Al-Bukhari: no: 6474
[4] HR. Turmudzi dalam sunannya: no: 2406
[5] HR. Turmudzi dalam sunannya: no: 2410
[6] Kitab: As-Shamt: Ibnu Abi Dunia: halaman: 241
[7] Ihya ulumuddin: 3/120
[8] Ihya ulumuddin: 3/112
[9] Ihya ulumuddin: 3/200
[10] Lihat: Syarah shahih Muslim: 2/19
[11] Al-Jawabul Kafi liman Sa’ala anid Dawa’is Syafi: halaman: 140
[12] HR, Muslm: no: 2621
[13] HR. Muslim: no: 49
[14] Al-Jawabul Kafi liman Sa’ala anid Dawa’is Syafi: halaman: 142

Tag : ,

INFO PEKALONGAN

Setelah kemarin siang wilayah Bojong diguyur hujan, banyak pengendara sepeda motor menjadi korban akibat jalan yg licin karena dampak dari tanah urugan proyek Tol yg tercecer.

Yang paling parah adalah kaki seorang bapak terlindas truk di Sebelah selatan Kantor kecamatan, Jalan Raya Bojong, Kabupaten Pekalongan, Pada Selasa (15/5/2018) Sore. Bapak tersebut jatuh kepleset lalu dari belakang ada truk yang melindas kakinya hingga patah.




SUMBER : INFO PEKALONGAN

JADILAH ENGAKU SESUATU



Anakku.....
Menjadi Orangtua membuatku menjadi sesuatu
Kasih sayangku padamu tak terkikis oleh emosi sesaatku
memandang wajahmu saat engkau tidur
Aku tersenyum melihat senyummu, engkau pasti bermimpi indah
Itu pikirku, dan aku cemas saat engkau terbangun.
Sebab Anakku ……..
Hidup bukan suatu impian yang indah...
Tapi kenyataan yang sesuai engkau usahakan
“SEMOGA SUKSES ANAKKU & DOAKU SELALU MENYERTAIMU”

Dahsyatnya Proses Sakaratul Maut

“Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri”. (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).
Datangnya Kematian Menurut Al Qur’an :
  1. Kematian bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia walaupun kita berusaha menghindarkan resiko-resiko kematian.
    Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS Ali Imran, 3:154)
  2. Kematian akan mengejar siapapun meskipun ia berlindung di balik benteng yang kokoh atau berlindung di balik teknologi kedokteran yang canggih serta ratusan dokter terbaik yang ada di muka bumi ini.
    Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? (QS An-Nisa 4:7 8)
  3. Kematian akan mengejar siapapun walaupun ia lari menghindar.
    Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS al-Jumu’ah, 62: 8)
  4. Kematian datang secara tiba-tiba.
    Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS, Luqman 31:34)
  5. Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat|
    Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS, Al-Munafiqun, 63:11)
Dahsyatnya Rasa Sakit Saat Sakaratul Maut
Sabda Rasulullah SAW : “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)
Sabda Rasulullah SAW : “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari)
Atsar (pendapat) para sahabat Rasulullah SAW .
Ka’b al-Ahbar berpendapat : “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”.
Imam Ghozali berpendapat : “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.
Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan. “Wahai manusia !”, kata pria tersebut. “Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku.”
Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekular, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan (walau tampak dunianya hanya beberapa detik), seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi.
Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak. Demikianlah rencana Allah. Wallahu a’lam bis shawab.
Sakaratul Maut Orang-orang Zhalim
Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang zhalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran perupaan Malaikatul Maut sebagai seorang pria besar berkulit legam, rambut berdiri, berbau busuk, memiliki dua mata, satu didepan satu dibelakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika melihatnya Ibrahim as pun pingsan tak sadarkan diri. Setelah sadar Ibrahim as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari itu.
Kisah ini menggambarkan bahwa melihat wajah Malakatul Maut saja sudah menakutkan apalagi ketika sang Malaikat mulai menyentuh tubuh kita, menarik paksa roh dari tubuh kita, kemudian mulai menghentak-hentak tubuh kita agar roh (yang masih cinta dunia dan enggan meninggalkan dunia) lepas dari tubuh kita ibarat melepas akar serabut-serabut baja yang tertanam sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras.
Itulah wajah Malaikatul Maut yang akan mendatangi kita kelak dan memisahkan roh dari tubuh kita. Itulah wajah yang seandainya kita melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak akan pernah lagi bisa tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup kita.
Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS Al-An’am 6:93)
(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat lalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); “Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”. Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS, An-Nahl, 16 : 28-29)
Di akhir sakaratul maut, seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah dua Malaikat Pencatat Amal. Kepada orang zhalim, si malaikat akan berkata, “Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang membuat kami terpaksa hadir kami ke tengah-tengah perbuatan kejimu, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan burukmu. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik ! ” Ketika itulah orang yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu.
Ketika sakaratul maut hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang dan roh mulai merayap keluar dari jasad mereka, maka tibalah saatnya Malaikatul Maut mengabarkan padanya rumahnya kelak di akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tak seorangpun diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka”.
Dan inilah ucapan malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang zhalim di neraka, “Wahai musuh Allah, itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka”. Naudzu bila min dzalik!
Sakaratul Maut Orang-orang Yang Bertaqwa
Sebaliknya Imam Ghozali mengatakan bahwa orang beriman akan melihat rupa Malaikatul Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan menyebarkan wangi yang sangat harum.
Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Assalamu alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS, An-Nahl, 16 : 30-31-32)
Dan saat terakhir sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan surga yang akan menjadi rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya, “Bergembiaralah, wahai sahabat Allah, itulah rumahmu kelak, bergembiralah dalam masa-masa menunggumu”.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Semoga kita yang masih hidup dapat selalu dikaruniai hidayah-Nya, berada dalam jalan yang benar, selalu istiqomah dalam keimanan, dan termasuk umat yang dimudahkan-Nya, selama hidup di dunia, di akhir hidup, ketika sakaratul maut, di alam barzakh, di Padang Mahsyar, di jembatan jembatan Sirath-al mustaqim, dan seterusnya.
Allahumma Amin..
- See more at: http://www.arrahmah.com/read/2008/05/17/1853-dahsyatnya-proses-sakaratul-maut.html#sthash.Cen2gFZM.dpuf

If We Die

"PINJAMI AKU SATU HARI..."
(suara kubur.)
Perlahan...., tubuhku diturunkan ke dalam lubang yang sempit...
Namun dengan cepat kemudian badanku ditimbun tanah...
Lalu semua orang meninggalkanku...
Masih terdengar jelas langkah kaki mereka...

Kini aku sendirian..., di tempat yang gelap,
tak pernah terbayangkan sebelumnya...
Sekarang aku sendiri, menunggu ujian dan pertanyaan-pertanyaan...
Suami/istri belahan jiwa pun pergi....
Anak..., yang ditubuhnya mengalir darahku..., juga pergi, apalagi sahabatku..., kawan dekat..., rekan bisnis...
Tak seorangpun yg mau ikut denganku...
Ternyata aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka...
Menyesal pun..., tiada berguna...
Tobat tak lagi diterima.
Minta maaf..., tak lagi didengar...
Kini aku sendirian mempertanggung jawabkan apa yang pernah aku lakukan...
Ya Allah...,
kalau boleh..., tolong pinjamkan satu hari saja milik-Mu...
Aku akan berkeliling memohon maaf kepada mereka, yang telah merasakan kezalimanku...
Yang susah dan sedih karena ulahku...
Yang aku sakiti hatinya...
Yang telah aku bohongi...
Yang telah aku lukai...
Ya Allah..., berikan aku satu hari saja...
Untuk memberi seluruh baktiku untuk ayah ibu tercinta...
Demi memohon maaf atas kata-kataku yang keras lagi tak sopan...
Maafkan aku Ayah... Maafkan aku Ibu...
Aku sungguh ingin sujud memohon ridha mereka...
Maafkan aku....
Dan aku ingin mengatakan bahwa aku sangat berterima kasih,
atas apa yang mereka korbankan untukku...
Ya Allah....,
pinjamkan aku satu hari saja...
Yang akan aku gunakan setiap detiknya,
Untuk ruku' dan sujud kepada-Mu...
Beramal shalih dengan tulus...
Menyedekahkan seluruh hartaku yang tersisa, di jalan-Mu...
Menyesaaaaal..., sekali rasanya...
Waktu-waktuku di dunia berlalu dengan sia-sia...
Bahkan Al Qur'an firman-Mu dengan malas-malasan kubaca...
Hadist Rasulullah pun tak pernah aku hiraukan...
Andai bisa kuputar ulang waktu itu...
Tapi... aku telah dimakamkan hari ini...
Manalah mungkin....?
Sakitnya sakaratul maut masih menancap pada setiap senti tubuhku yang kini kaku...
Tenggorokanku serasa ditancapi dahan besar yang penuh duri tajam...
Lalu dahan itu ditarik dengan sekuat tenaga oleh malaikat maut...
Sakit.... sakit sekali...
Seratus tahun pun tak hilang rasa sakit ini...
Kulit dan tulangku seperti digergaji lalu direbus dalam belanga...
Nyeri... panas.... masih terasa...
Dagingku pun terasa terlepas dari tulangnya...
Duhai..., kerasnya tarikan malaikat maut itu...
Seandainya aku masih bisa bercerita...
Tentu tak akan tenang tidur teman-temanku yang masih hidup...
Seumur hidup mereka tak akan pernah lagi tidur nyenyak...
Andai saja mereka tahu...
Baru beberapa saat dalam gelap...
Masih terdengar sayup-sayup suara sandal orang-orang yang meninggalkanku...
Tanah kuburku masih gembur...
Baru saja ditidurkan sendirian...
Aku lihat tanah kuburan ini makin lama makin menyempit...
Dari kiri, kanan, atas dan bawah, makin mendekat...
Aku ngeri... mereka terus menghimpitku dengan kejam...
Aku ingin berteriak...tapi tak mampu...
Tubuhku remuk, rusukku bertindihan...
Organ-organ dalamku hancur...
Inilah yang dijanjikan Allah pada semua mayat, termasuk mayat orang shalih...
Akankah diluaskan lagi kuburku setelah ini ... ?
Bagaimanakah aku menjawab pertanyaan ujian setelah ini ... ?
Ooohh..., andaikan aku bisa keluar dari sini...
Yaa Allah, yaa Rahman...
Ampuni dosa-dosa kami..., segala kekhilafan kami...
Engkaulah Maha Pengasih lagi Maha Pengampun...
Jadikanlah kelak akhir umur kami husnul khatimah dan sebagai penghuni surga Mu......
￿￿￿ Aamiin Yaa Mujibasaailiin .... ￿
Yaa Robbal Alamin .... pertemukan kami semua kelak dalam Surga FirdausMU ...￿￿￿￿￿

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2015/2016


Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) disebut juga Computer Based Test (CBT) adalah sistem pelaksanaan ujian nasional dengan menggunakan komputer sebagai media ujiannya. Dalam pelaksanaannya, UNBK berbeda dengan sistem ujian nasional berbasis kertas atau Paper Based Test (PBT) yang selama ini sudah berjalan. Penyelenggaraan UNBK pertama kali dilaksanakan pada tahun 2014 secara online dan terbatas di SMP Indonesia Singapura dan SMP Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Hasil penyelenggaraan UNBK pada kedua sekolah tersebut cukup menggembirakan dan semakin mendorong untuk meningkatkan literasi siswa terhadap TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Selanjutnya secara bertahap pada tahun 2015 dilaksanakan rintisan UNBK dengan mengikutsertakan sebanyak 555 sekolah yang terdiri dari 42 SMP/MTs, 135 SMA/MA, dan 378 SMK di 29 Provinsi dan Luar Negeri. Penyelenggaraan UNBK saat ini menggunakan sistem semi-online yaitu soal dikirim dari server pusat secara online melalui jaringan (sinkronisasi) ke server lokal (sekolah), kemudian ujian siswa dilayani oleh server lokal (sekolah) secara offline. Selanjutnya hasil ujian dikirim kembali dari server lokal (sekolah) ke server pusat secara online (upload).
Daftar Sekolah Peserta UNBK

Benarkah cara Berislam Anda

Tidak bisa dipungkiri Islam “lahir” lebih dari 14 abad yang lalu. Selang waktu yang sangat lama ini sangat memungkinkan untuk terjadi kesesatan di dalam “tubuh” Islam. Jangankan 14 abad, dalam waktu yang sangat singkat saja, suatu kaum bisa menjadi sesat, sebagaimana terjadi pada Bani Israil ketika ditinggalkan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam selama 40 hari. Yang tadinya mereka hanya menyembah kepada Allah, akhirnya mereka menyembah kepada berhala. Begitu pula dengan jarak yang sangat jauh dengan pusat penyebaran Islam di zaman dahulu, seperti: Madinah, Mekkah, Baghdad, Mesir dll. Untuk bisa mencapai negeri Indonesia, para penyebar Islam harus menempuh pelayaran dan perjalanan yang sangat lama. Ini juga mendukung terjadinya kesesatan. Berdasarkan catatan sejarah, di awal-awal masuknya Islam ke Indonesia, Islam banyak disebarkan oleh para pedagang Islam yang berinteraksi dengan masyarakat pribumi. Mereka tidak terkenal sebagai ulama yang benar-benar menguasai ilmu Islam secara mendalam sebagaimana ulama-ulama yang berada di pusat penyebaran Islam di zaman dahulu. Seandainya benar mereka adalah ulama-ulama yang memiliki ilmu yang sangat dalam, tentunya kita akan mendapatkan peninggalan-peninggalan ilmiah mereka, baik berupa: tulisan tangan, riwayat perkataan mereka atau kemasyhuran mereka di dunia Islam. Tetapi ternyata kita tidak menemukannya. Sehingga bisa disimpulkan bahwa Islam di Indonesia dulunya diajarkan oleh orang-orang yang belum mencapai derajat ulama yang mendalam ilmunya. Jika demikian, maka Islam bisa ternoda dengan ketidakberilmuan mereka. Ini juga sangat mendukung terjadinya kesesatan di Indonesia. Sebagaimana kita ketahui juga, agama yang banyak menyebar di Indonesia sebelum masuknya agama Islam adalah agama Hindu,
Budha, Animisme, Dinamisme dan Atheis. Disadari atau tidak, ini juga tidak menutup kemungkinan untuk terjadi percampuran agama Islam dengan agama-agama tersebut. Belum lagi dengan budaya yang beraneka ragam yang sekarang sangat tampak pengaruhnya terhadap pemeluk-pemeluk Islam di Indonesia. Ini juga bisa mendukung terjadinya kesesatan. Dengan membaca apa yang telah penulis paparkan di atas, maka Indonesia bisa menjadi “lahan” subur untuk menyebarnya berbagai kesesatan. Oleh karena itu, dalam berislam kita harus benar-benar memperhatikan apakah Islam yang kita jalani pada saat ini adalah Islam yang benar dan jauh dari kesesatan ataukah tidak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan di dalam hadits Abu Hurairah:
Artinya: “Umat Yahudi terpecah-belah menjadi 71 atau 72 kelompok. Umat Kristen juga terpecah belah menjadi 71 atau 72 kelompok. Sedangkan umatku akan terpecah-belah menjadi 73 kelompok [1]. Seluruhnya di neraka kecuali satu kelompok.[2] Hadits di atas dengan jelas mengabarkan bahwa kaum muslimin akan berpecah-belah dan hanya ada satu kelompok yang selamat. Ini harus kita imani, karena Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam-lah yang mengatakannya. Hadits di atas juga mengabarkan bahwa ketujuh puluh kelompok tersebut masih digolongkan sebagai umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beragama Islam, sehingga meskipun mereka terjatuh kepada kesesatan, mereka di akhirat nanti masih berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah
berkehendak untuk mengazab mereka maka Allah akan mengazab mereka, jika tidak maka Allah tidak akan mengazab mereka. Akan tetapi, kesemuanya pada akhirnya akan masuk surga. Penulis perlu mengingatkan bahwa ada kelompok-kelompok di dalam Islam yang menisbatkan diri mereka kepada Islam, tetapi kelompok-kelompok tersebut sebenarnya bukanlah termasuk umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti: Ahmadiyah, Jaringan Islam Liberal (JIL), beberapa tarikat Shufiyah dan Syi’ah/Rafidhah yang melampaui batas dll. Kelompok-kelompok tersebut tidak termasuk ketujuh puluh kelompok yang disebutkan di dalam hadits di atas. Siapakah satu kelompok yang disebutkan di dalam hadits tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita tidak boleh mengaku-ngaku berada dalam kebenaran kecuali memang ada dalilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan seharusnya kita selalu merasa was-was atau ragu apakah Islam yang kita jalani pada saat ini sudah benar ataukah belum. Dengan demikian kita akan bersemangat untuk mencari kebenaran tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mensifati mereka pada kelanjutan hadits di atas:
Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun ditanya, “Siapakah satu kelompok itu, Ya Rasulullah?” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Apa yang sesuai dengan yang saya dan para sahabatku berada di atasnya pada hari ini.” Dengan demikian, Islam yang paling benar adalah Islam yang sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ada penambahan dan pengurangan di dalamnya dan juga Islam yang dijelaskan oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi

wa sallam, karena mereka langsung menerima ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang ini banyak orang mengatakan bahwa kelompoknya adalah kelompok yang paling benar, karena kelompoknya berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Akan tetapi, mengapa masih terjadi perpecahan di antara mereka sehinga yang satu kelompok mengkafirkan yang lain dan yang lainnya mengatakan sesat kelompok yang lain? Ini semua terjadi karena mereka memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah hanya dengan akal-akal mereka atau mencukupkan diri dengan bahasa Arab yang mereka kuasai. Sehingga mereka tidak tahu apakah mereka telah terjatuh kepada kesesatan ataukah tidak. Saudara pembaca yang mudah-mudahan Allah merahmati kita semua, Jika Al-Qur’an dan As-Sunnah ditafsirkan atau dijelaskan dengan akal-akal manusia, maka akan terjadilah keberagaman pemahaman, karena setiap orang sangat berbeda tingkat pemahamannya dengan yang lain. Jika terus berlangsung demikian, maka Islam di setiap zaman akan berbeda-beda dan akan menjadi agama baru yang berbeda dengan Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, kita harus mengikuti pemahaman siapa? Jawabannya adalah kita harus mengikuti pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dengan baik. Apakah mereka masih ada pada zaman sekarang ini? Ya, orang-orang yang mengikuti pemahaman para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik masih ada pada zaman sekarang ini sampai hari kiamat nanti. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Artinya : ”Senantiasa ada sekelompok orang di kalangan umatku yang selalu tampak dengan kebenarannya. Orang yang tidak mengacuhkan mereka tidak dapat memberikan mudarat kepada mereka sampai datang perkara Allah dan mereka tetap dengan kebenarannya.”[3] Mengapa kita harus mengikuti pemahaman para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik? Setidaknya ada empat alasan mengapa kita harus mengikuti pemahaman mereka, yaitu: 1. Allah subhanahu wa ta’ala telah me-ridha-i mereka di dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya: Artinya: “Allah telah ridha kepada mereka dan mereka pun telah ridha kepada Allah.” (QS Al-Bayyinah : 8) 2. Mereka adalah umat terbaik di hadapan Allah Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di zamanku, kemudian yang hidup setelah zamanku, kemudian yang hidup setelahnya.” [4] 3. Allah mengancam orang-orang yang menyelisihi mereka di dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya
Artinya: “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS An-Nisa’ : 115) “Jalan orang-orang mukmin”, siapakah mereka? Tidak lain, mereka adalah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 4. Allah di dalam Al-Qur’an telah memuji mereka dan menyediakan untuk mereka surga
Artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah me-ridha-i mereka dan mereka pun telah ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS At-Taubah : 100) Pada ayat di atas Allah menyebutkan keutamaan kaum Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah telah me-ridha-i mereka dan menyediakan surga untuk mereka kelak. Oleh karena itu, kita harus bisa mengikuti jejak mereka agar bisa menjadi seperti orang-orang yang disebutkan setelah kaum Muhajirin dan Anshar dan mendapatkan keutamaan berupa ke-ridha-an Allah dan surga.

Bagaimana agar kita bisa benar-benar yakin bahwa Islam yang kita jalani adalah Islam yang sesuai dengan pemahaman mereka? Agar kita bisa yakin, maka kita harus benar-benar mempelajari Islam ini dan menghidupkan keilmiahan dalam beragama. Kita tidak menerima, mengamalkan dan berkeyakinan kecuali benar-benar memiliki dalil dari Al-Qur’an dan HaditsNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebar di dunia Islam pun harus diseleksi lagi, karena hadits tersebut bermacam-macam; Ada hadits shahih dan hasan (kedua hadits inilah yang bisa menjadi hujjah/dalil); dan ada juga haditsdha’if/lemah dan maudhu’/palsu (kedua hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah). Tidak cukup dengan itu, kita harus meneliti lagi apakah pemahaman kita akan tafsir Al-Qur’an danhadits tersebut sudah sesuai dengan pemahaman orang-orang Islam yang terdahulu (kaum salaf dari kalangan sahabat, tabi’in, tabi’ut-tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik) dengan membaca nukilan-nukilan perkataan mereka di kitab-kitab para ulama yang terpercaya keilmuannya. Di dalam urusan dunia saja kita harus ilmiah dalam menerima segala sesuatu, contohnya: Dalam bidang kedokteran, para dokter tidak bisa menerima suatu cara pengobatan kecuali dengan adanya penelitian dan bukti ilmiah. Begitu pula dalam bidang teknologi, para ilmuan tidak bisa mengatakan bahwa sesuatu penemuan tersebut adalah ilmu pengetahuan kecuali bisa dibuktikan dan dijelaskan dengan teori-teori ilmiah. Apalagi dalam beragama, maka kita juga harus menghidupkan keilmiahan dalam beragama, sehingga kita nantinya tidak salah dalam memahami agama ini dan tidak tersesat.
Kita juga seharusnya jangan terlalu fanatik dengan madzhab fiqh tertentu, seperti: madzhab Syafi’i, madzhab Hanbali (Ahmad), madzhab Hanafi dan madzhab Maliki. Imam-imam madzhabtersebut tidaklah ma’shum (terjaga dari dosa), sehingga memungkinkan bagi mereka terjatuh kepada kesalahan-kesalahan. Tidaklah ada pada suatu madzhab fiqh tersebut kecuali di dalamnya ada kebenaran dan kesalahan. Apa-apa yang benar dan sesuai dengan dalil, maka kita ikuti. Dan apa-apa yang salah atau menyelisihi dalil maka kita harus tolak. Kebenaran yang muthlaq tidak ada terdapat pada suatu madzhab tertentu. Dengan demikian, Sudah benarkah cara berislam Anda? Jika belum benar, maka marilah kita sama-sama memperbaikinya, berlapang dada menerima kebenaran dan tidak sombong. Akhirul-kalam, penulis mengharapkan kepada pembaca untuk bisa menyebarkan kebaikan yang terdapat pada tulisan ini dengan menyampaikannya kepada orang-orang di sekitar pembaca, keluarga dan kaum muslimin. Mudahan tulisan ini bermanfaat. Amin. [1] Sampai di sini HR Abu Dawud no. 4596, At-Tirmidzi no. 2640 dan Ibnu Majah no. 3991 (Hadits ini di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani). [2] HR Al-Marwazi di As-Sunnah no. 59 dan Al-Hakim di Al-Mustadrak no. 444. Hadits ini memiliki syahid dari Anas bin Malik, sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabrani di Al-Mu’jam Al-Aushath no. 4886. [3] HR Muslim no. 5059 [4] HR Al-Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 6635 Sumber : http://kajiansaid.wordpress.com

- Copyright © OmAlie - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -